Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati at-Tanji, yang dikenal luas sebagai Ibnu Batutah atau Shams-ud-din di negara-negara Timur, adalah salah satu pengembara terbesar dalam sejarah Islam. Lahir di Tangier, Maroko, pada tanggal 24 Februari 1304, ia berasal dari keluarga terpelajar yang secara turun-temurun menekuni bidang hukum dan administrasi lembaga keagamaan.
Petualangan besarnya dimulai pada Juni 1325 saat ia berusia dua puluh satu tahun, ketika ia meninggalkan kampung halamannya dengan tujuan awal untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Perjalanan yang awalnya diniatkan untuk haji tersebut berkembang menjadi penjelajahan dunia yang berlangsung selama hampir tiga puluh tahun. Secara keseluruhan, ia menempuh jarak luar biasa yang diperkirakan mencapai lebih dari 75.000 mil (sekitar 125.000 km), mencakup wilayah Afrika Utara, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara (termasuk Sumatra dan Jawa), hingga Tiongkok.
Dalam sumber-sumber tersebut, Ibnu Batutah digambarkan sebagai pribadi yang memiliki bakat serba bisa, mulai dari alim (cendekiawan), teolog, penjelajah, prajurit, pelaut, ahli geografi, sejarawan, hingga kadi (hakim). Di India, ia menetap cukup lama dan mengabdi kepada Sultan Delhi, Muhammad bin Tughluq, yang mengangkatnya menjadi kadi di Delhi dengan gaji tahunan sebesar 12.000 dinar.
Sekembalinya ke Maroko sekitar tahun 1354, Sultan Abu Inan Faris memerintahkannya untuk mendiktekan kisah perjalanannya kepada seorang sekretaris sastra bernama Ibnu Juzayy. Karya literatur monumental ini dikenal dengan judul Tuhfat un-Nuzzab fi Gharaib-il-Amsar wa ‘Ajaib-il-Asfar (Persembahan bagi Para Pengamat Keajaiban Kota-kota dan Keunikan Perjalanan), atau lebih populer disebut Ar-Rihlah. Karya ini menjadi tambang informasi sejarah mengenai institusi hukum, politik, sosial, hingga militer pada abad ke-14. Ibnu Batutah meninggal dunia di Fez sekitar tahun 1377 atau 1378.
Ibarat bentangan peta hidup yang bernapas, Ibnu Batutah bukan hanya melintasi batas-batas geografis, tetapi juga menjadi saksi mata yang mendokumentasikan keragaman wajah dunia sebelum teknologi modern menyatukannya.
Bagian dari warisan Ibnu Batutah yang paling mempengaruhi dunia saat ini adalah karya literaturnya yang monumental, yaitu Ar-Rihlah (Lawatan). Karya ini dianggap sebagai sumber rujukan sejarah utama yang menyajikan gambaran terperinci mengenai peradaban dunia pada Abad Pertengahan.
Berikut adalah beberapa aspek utama dari pengaruh karyanya yang masih terasa hingga saat ini:
Tambang Informasi Sejarah: Ar-Rihlah berfungsi sebagai ensiklopedia sejarah yang mendokumentasikan institusi hukum, politik, sosial, dan militer di abad ke-14. Catatan ini memberikan wawasan mendalam bagi para peneliti modern untuk memahami bagaimana pemerintahan dikelola dan bagaimana hukum syariat diterapkan di berbagai wilayah berbeda, mulai dari India hingga Maladewa.
Dokumentasi Rute Perdagangan dan Komunikasi: Ibnu Batutah mencatat secara rinci sistem pos (kuda dan jalan kaki), rute perdagangan maritim, dan lalu lintas internasional di masa lalu. Informasi ini sangat penting bagi pemahaman dunia saat ini mengenai akar globalisasi dan konektivitas antarbangsa jauh sebelum adanya teknologi modern.
- Saksi Mata Budaya dan Sosial: Ia mendokumentasikan aspek kehidupan sehari-hari yang jarang dicatat oleh sejarawan lain, termasuk peran perempuan, adat istiadat pernikahan, budaya makan, hingga praktik keagamaan di berbagai belahan dunia. Hal ini memberikan perspektif antropologis yang sangat berharga bagi studi sosiologi dunia saat ini.
- Geografi Islam dan Deskripsi Wilayah: Sebagai seorang ahli geografi, ia adalah orang pertama yang memberikan deskripsi mengenai banyak tempat, termasuk keterangan awal mengenai Tembok Besar Tiongkok dalam ranah ilmu geografi Islam. Catatannya membantu memetakan persebaran budaya dan agama pada zamannya.
- Inspirasi bagi Penjelajahan Modern: Sosoknya diakui sebagai salah satu musafir terbesar sepanjang masa. Karyanya terus menginspirasi para pengembara dan ilmuwan untuk terus mengeksplorasi hubungan antarperadaban dan menghargai keragaman budaya dunia.
Meskipun beberapa kritikus meragukan apakah ia mengunjungi setiap tempat secara pribadi, Ar-Rihlah tetap diakui sebagai karya tulis yang berisi keterangan-keterangan sangat penting mengenai keadaan dunia di abad ke-14 yang tidak dapat ditemukan di sumber lain.
Ibarat sebuah kapsul waktu yang tak ternilai, Ibnu Batutah melalui Ar-Rihlah telah mengawetkan wajah peradaban yang telah lama sirna, memungkinkan dunia modern untuk memahami fondasi hubungan antarbudaya dan sejarah manusia yang kita miliki saat ini.
Hubungan antara Ibnu Batutah dengan Indonesia (khususnya wilayah Nusantara pada masa itu) sangatlah signifikan, karena ia merupakan salah satu saksi sejarah yang mencatat keberadaan kesultanan Islam awal di tanah air. Berdasarkan sumber-sumber yang ada, berikut adalah rincian hubungan tersebut:
- Kunjungan ke Kesultanan Samudra Pasai (Sumatra) Pada tahun 1345, dalam perjalanannya menuju Tiongkok, Ibnu Batutah menyinggahi Kesultanan Samudra Pasai di kawasan utara Pulau Sumatra (sekarang wilayah Aceh). Dalam catatannya, ia menyebut wilayah ini dengan nama “al-Jawa”. Ia bertemu langsung dengan penguasanya, Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin, yang digambarkannya sebagai seorang Muslim yang sangat saleh, rajin beribadah, dan memiliki ketekunan tinggi dalam memerangi kaum penyembah berhala di wilayah sekitarnya,
- Pengamatan Budaya, Agama, dan Alam Ibnu Batutah mencatat beberapa poin penting mengenai kondisi sosial dan alam di Sumatra saat itu:
– Agama: Ia mencatat bahwa penduduk Samudra Pasai menganut mazhab Imam Syafi‘i, dengan amalan yang mirip dengan umat Muslim di pesisir India.
– Peta Islam: Ia menyebut Samudra Pasai sebagai pelosok terjauh dari Darul Islam (wilayah pemerintahan Islam) pada abad ke-14, karena tidak ada lagi penguasa Muslim di wilayah sebelah timurnya pada masa itu.
– Sumber Daya Alam: Ia mendokumentasikan kekayaan alam Pulau Sumatra yang berlimpah, seperti kapur barus, biji pinang, cengkih, dan timah. - Kunjungan ke “Mul Jawa” (Pulau Jawa) Setelah dari Sumatra, Ibnu Batutah berlayar selama 21 hari menuju suatu tempat yang ia sebut “Mul Jawa”, yang diidentifikasi sebagai Pulau Jawa. Ia mencatat wilayah ini sebagai pusat kekaisaran Hindu yang besar. Ia sempat singgah di kota bertembok bernama Qaqula/Kakula dan mengamati keberadaan kapal perang bajak laut serta penggunaan gajah untuk berbagai keperluan. Di sana, ia tinggal selama tiga hari sebagai tamu penguasa Mul Jawa.
- Legenda Putri Urduja dan Tawalisi Dalam catatan perjalanannya dari wilayah Malaka, ia menyebutkan kunjungan ke Negeri Tawalisi dan bertemu dengan seorang putri srikandi pemberani bernama Urduja. Meskipun lokasi pastinya masih menjadi perdebatan para sejarawan, beberapa pendapat mengaitkan lokasi kerajaan ini dengan wilayah di Pulau Jawa (Majapahit).
- Hubungan Diplomatik dan Transportasi Hubungan Ibnu Batutah dengan penguasa Nusantara sangat baik. Saat tinggal di Samudra Pasai, ia dijamu selama dua pekan di dalam kota berpagar kayu sebagai tamu kehormatan sultan. Ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Tiongkok, Sultan Al-Malikul Zahir menyediakan perbekalan dan memberangkatkannya menggunakan salah satu jung (kapal) pribadi milik sultan. Bahkan saat kembali dari Tiongkok pada tahun 1346, ia kembali menggunakan kapal milik Sultan Samudra Pasai untuk berlayar balik menuju Asia Tenggara.
Ibarat sebuah kapsul waktu literatur, catatan Ibnu Batutah dalam Ar-Rihlah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan Indonesia modern dengan potret kejayaan kesultanan Islam pertama di Nusantara, memberikan bukti tertulis tentang standar moral, mazhab agama, dan konektivitas perdagangan global pada masa itu.
